MAKALAH
TUGAS KONSEP DASAR KEBIDANAN II

 

Management Airway (Pembebasan Jalan Nafas)

 

 
   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DI SUSUN OLEH :

IMUNG HIDAYATI (206112077)                                          FATHIYATUL M (206112020)

AULIA SEPTI M (206112078)                                                 KIKI YULIANA (206112021)

ANNISA KUSUMA (206112079)                                          INUNG DWI (206112022)

ANA MUHIFA (206112080)                                                   FERA NURJANAH (206112023)

DESI ERNA D (206112081)                                                     ENI KHUZAIMAH (206112024)

EKA RATNA (206112082)                                                       AMALIYAH DWI (206112025)

VITRIANA A (206112083)                                                       WINDY HADISTINA (206112026)

MAYANG SARI (206112084)                                                 MAULIDA KURNIATI (206112027)

NUR SAKTI (206112085)                                                         YUYUN UMRI (206112028)

 

PRODI :

D-3 KEBIDANAN 1A DAN 1B

 

STIKES AL-IRSYAD AL-ISLAMIYYAH CILACAP

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN

TAHUN AKADEMIK 2012/20

KATA PENGANTAR

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Alhamdulillaahirabbil’alaamiin, puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat limpahan rahmat, karunia dan hidayahNya-lah kami dapat menyelesaikan makalah mengenai Konsep Dasar Kebidanan II tentang Managemen Air Way (Pembebasan Jalan Nafas). Selain bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah KDK II, makalah ini juga disusun dengan maksud agar pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan tentang airway.

Makalah ini memuat tentang definisi dari airway, dan cara penanganannya. Kritik dan saran selalu kami harapkan demi penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

 

 

 

 

 

Cilacap, 8  Maret 2013

                                                                              

 

 

         Penulis

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1.            Latar Belakang

            Zaman sekarang banyak sekali pasien­-pasien di rumah sakit besar yang tidak sadarkan diri. Pada pasien yang tidak sadar umumnya terjadi sumbatan jalan napas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring karena terjadi penurunan tonus. Hal ini jika tidak di tangani dengan tepat maka akan berbahaya untuk jiwa pasien.

Manajemen airway (pembebasan jalan napas) adalah salah satu langkah yang diperlukan untuk menolong pasien dalam keadaan tersebut. Karena dengan tindakan ini, pasien sedikit demi sedikit akan mulai membuka lidah yang menutupi dinding posterior faring tersebut.

            Dengan adanya makalah ini, semoga tidak hanya bermanfaat bagi penulis, tetapi bisa bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan maupun yang hanya yang sekedar membaca untuk menambah wawasan saja.

 

1.2.            Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan airway?
  2. Bagaimana management airway?
  3. Bagaimana penilaian jalan nafas pada klien?

 

1.3.             Tujuan Penulisan

  1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan airway.
  2. Untuk mengetahui management airway.
  3. Untuk mengetahui penilaian jalan nafas pada klien.

 

1.4.             Manfaat Penulisan

  1. Dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan airway.
  2. Dapat mengetahui management airway.
  3. Dapat mengetahui penilaian jalan nafas pada klien.

 

BAB II

ISI

 

AIRWAY CONTROL (PEMBEBASAN JALAN NAPAS)

Pada pasien yang tidak sadar umumnya terjadi sumbatan jalan napas oleh lidah yang menutupi dinding posterior faring karena terjadi penurunan tonus. Hal ini dapat diatasi dengan tiga cara:

  1. Ekstensikepala: ekstensikan kepala korban/pasien dengan satutangan, bila perlu ganjal bahu.
  2. Ekstensi kepala dan mengangkat dagu: ekstensikan kepala dan angkat dagu keatas.
  3. Ekstensi kepala dan mendorong mandi bula: ekstensikan kepala, pegangan gulusman dibula pada ke dua sisi, kemudian dorong kedepan.

Ketiga hal di atas dikenal sebagai triple airway maneuver dari Safar.Metode ke dua atau ketiga lebih efektif dalam membuka jalan napas atas dari pada metode pertama.

Bila diketahui atau dicurigai ada trauma kepala dan leher, korban hanya digerakkan/dipindahkan bila memang mutlak perlu. Pada dugaan patah tulang leher, pendorongan mandibula saja tanpa ekstensi kepala merupakan metode paling aman untuk menjaga agar jalan napas tetap terbuka. Bila belum berhasil, dapat dilakukan sedikit ekstensi kepala. 

Bila terdapat pernapasan spontan dan ade kuat (tidakadasianosis), letakkan pasien dalam posisi miring mantap untuk mencegah aspirasi.Saat itu kita   dapat meminta pertolongan ambulans.Sedangkan bila ventilasi adekuat tetap inapastidakad kuat (adasianosis), korban/pasien perlu berikan oksigen lewat kateter nasal atau sungkupmuka.

 

Langkah-langkah yang dilakukan dalam resusitasi jantung paru adalah sebagai berikut :

1. Airway (jalan nafas)

Berhasilnya resusitasi tergantung dari cepatnya pembukaan jalan nafas. Caranya ialah segera menekuk kepala korban kebelakang sejauh mungkin, posisi terlentang kadang-kadang sudah cukup menolong karena sumbatan anatomi saki batli dah jatuh kebelakang dapat dihilangkan. Kepala harus dipertahankan dalam posisi ini.

Bila tindakan ini menolong, maka rahang bawah ditarik kedepan. Caranyaialah :

  1. Tarik mandibula ke depan dengan ibu jari sambil,
  2. Mendorong kepala ke belakang dan kemudian,
  3. Buka rahang bawah untuk memudahkan bernafas melalui mulut atau hidung.
  4. Penarikan rahang bawah paling
  5. Baik dilakukan bila penolong berada pada bagian puncak kepala korban. Bila korban tidak mau bernafas spontan,  penolong harus pindah kesamping korban untuk segera melakukan pernafasan buatan mulut kemulut atau mulut kehidung.

Jalan Nafas (Airway)

Meskipun huruf A pada istilah ABC berarti Airway (jalannafas), namun ini juga berarti penilaian awal (initial Assessment) kondisi pasien. Sebelum resusitasi jantung paru dimulai, tidak adanya respon harus ditentukan dan system respon darurat diaktifkan.

Penilaian jalan nafas kemudian dilakukan. Pasien diposisikan dalam keadaan terlentang pada permukaan yang padat. Obstruksi jalan nafas paling sering disebabkan oleh lidah ataupun epiglotis yang jatuh kebelakang/ posterior. Jika tidak ada tanda-tanda instabilitas tulang leher/servikal, maneuver kepala ditengadahkan dan dagu diangkat (head tilt-chin lift), harus dicoba terlebih dahulu. Salah satu tangan (telapak tangan) diletakkan pada dahi pasien untuk memberikan tekanan agar kepala dapat ditengadahkan sambil mengangkat dagu dengan menggunakan ibu jari dan jari telunjuk tangan yang lain. Elevasi mandibula (jaw thrust) mungkin lebih efektif dalam membuka jalan nafas dan dilakukan dengan menempatkan kedua tangan pada setiap sisi kepala pasien, memegang sudut mandibula, dan mengangkatnya.

 Jika muntahan (vomitus) atau benda asing dapat terlihat di dalam mulut pasien yang tidak sadar, harus dikeluarkan dengan jari telunjuk yang dibengkokkan. Jika pasien sadar atau jika benda asing tidak dapat dikeluarkan dengan sapuan jari, dianjurkan melakukan maneuver heimlich. Tekanan pada abdomen subdiafragma ini mengelevasi diafragma, mengeluarkan hembusan udara yang kencang dari paru-paru yang dapat mendorong benda asing tersebut keluar. Komplikasi-kompliksi dari maneuver Heimlich ini antara lain patah tulang rusuk, trauma pada organ dalam, dan regurgitasi. Kombinasi pukulan pada punggung (back blow) dan tekanan dada (chest thrust) dianjurkan untuk mengatasi obstruksi jalan nafas akibat benda asing pada bayi.
Jika setelah jalan nafas dibuka tidak ada tanda-tanda pernafasan yang adekuat, penolong harus memulai bantuan pernafasan, dengan memompa paru- paru korban dengan pernafasan mulut-kemulut, mulut kehidung, mulut ke stoma, mulut kealat rintangan (barrier device), mulut kepenutup muka (face shield), atau mulut ke sungkup atau dengan menggunakan alat sungkup berkantung/pompa (bag-mask device). Nafas diberikan secara perlahan (waktuinspirasi ½ sampai 1 detik) dengan volume tidal yang lebih kecil (sekitar 700-1000 ml, lebih kecil lagi (400- 600 ml) bila menggunakan oksigen tambahan) dari pada yang dianjurkan sebelumnya.

Dengan ventilasi tekanan positif, bahkan dengan volume tidal yang kecil, pengembangan lambung yang mengakibatkan regurgitasi dan aspirasi mungkin saja terjadi. Oleh karenaitu, begitu keadaan memungkinkan, jalan nafas harus segera diamankan dengan pipatrakea (TT) atau jika hal itu tidak memungkin kan jalan nafas alternative harus dimasukkan. Jalan nafas alternative tersebut antara lain Esophageal- tracheal combitube (ETC), Laryngeal mask airway (LMA), Pharyngotracheal lumen airway, dan cuffed oropharyngeal airway. ETC dan LMA bersama oral dan nasopharyngeal airways, sungkup muka, laringoskop, dan pipa trakea dibahas pada bab 5. Dari alat-alat tersebut di atas, penggunaan LMA semakinmeningkat sebagai pilihan utama di rumah sakit.Pedoman Resusitasi jantung paru- perawatan jantung darurat (CPR-ECC) tahun 2000 merekomendasikan penggunaan pipa trakea sebagai alat bantu jalan nafas pilihan jika ada orang yang ahli dalam pemasangannya.

Terlepas dari alat bantu jalan nafas mana yang digunakan, pedoman-pedoman tersebut menegaskan bahwa penolong harus memastikan penempatan pipa trakea dengan detektor end- tidal CO2 – suatuan dikator, sebuah kapnograf, atau sebuah alat kapnometrik. Setelah suatu jalan nafas buatan berhasil dipasang, alat ini harus diamankan secara cermat dengan suatu ikatan atau pun tape (25% jalan nafas buatan ini terlepas atau berubah tempat selama transportasi psien).
Walau demikian, beberapa penyebab obstruksi jalan nafas, tidak bisa diatasi dengan metode konvensional. Lebih lanjut, intubasitrakea secara teknis mungkin tidak bisa dilakukan (mis.Trauma fasial berat), ataupun usaha yang berulang-ulang lebih membahayakan pasien (mis.trauma tulang leher). Pada keadaan-keadaan ini, tindakan krikotirotomi atau pun trakeostomi mungkin di perlukan. Krikotirotomi dilakukan dengan meletakkan kateterintravena yang besar atau kanula khusus yang tersedia secara komersil kedalam trakea melalui garis tengah membranakrikotiroid.Lokasi yang tepat dipastikan dengan adanya aspirasi udara. Keteraturan 12 atau 14 membutuhkan tekanan pendorong sebesar 50 psi untuk dapat menghasilkan aliran udara yang cukup (transtracheal jet ventilation).
Terdapat berbagai system tersedia, yang menghubungkan sumber beroksigen tekanan tinggi (mis.oksigendindingsentral, tangkioksigen, ataupun outlet udara pada mesin anestesi) dengan kateter. Sebuah injektor jet yang dioperasikan dengan tangan atau katup pengalir oksigen pada sebuah mesin anestesi mengatur ventilasi. Penambahan sebuah regulator tekanan meminimalkan resiko terjadinya barotrauma.

Terlepas dari system ventilasi jet transtrachealmana yang dipilih, alat ini harus segera tersedia, menggunakan pipa dengan tingkat pengisian penuh yang rendah, dan memiliki sambungan- sambungan yang aman. Sambungan langsung kateterintravenaukuran 12 atau 14 dengan system lingkaran anestesi tidak memungkinkan ventilasi yang adekuat karena tingginya tingkat pemenuhan (compliance) pipa pernafasan dan kantung pernafasan yang berkerut. Di sampingitu, juga tidak mungkin memberkan ventilasi yang adekuat melalui kateterukuran12 atau 14 dengan menggunakan kantongresusitasi yang dipompasecara manual (self-inflating resuscitation bag).

Cukup tidaknya ventilasi- terutama ekspirasi – dinilai dengan observasi pergerakan dinding dada dan auskultasi suara nafas.Komplikasi akut meliputi pneumotoraks, emfisemasubkutan, emfisema mediastinum, perdarahan, bocornya trakeomalasia, stenosis subglotis, dan perubahan pada pita suara. Krikotirotomi tidak dianjurkan secara umum pada anak usia di bawah 10 tahun.
Trakeostomi bisa dilakukan di suatu lingkunyan yang lebih terkendali setelah oksigenasi telah diamankan dengan krikotirotomi. Namun, gambaran lengkap tentang trakeostomi berada di luar lingkup teksini.

Penilaian jalan napas pada korban


Membuka jalan napas

Lidah merupakan penyebab utama tertutupnya jalan napas pada korban tidak sadar. Pada korban yang tidak sadar, lidah akan kehilangan kekuatan ototnya sehingga akan terjatuh kebelakang rongga mulut. Hal ini mengakibatkan tertutupnya trakea sebagai jalan napas. Pada kasus-kasus tertentu, korban membutuhkan bantuan pernapasan. Sebelum diberikan bantuan pernapasan, jalan napas korban harus terbuka. Ada dua manuver yang lazim digunakan untuk membuka jalan napas, yaitu head tilt / Chin lift dan jaw trust.

 

Penilaian jalan napas

Patensi (tetap mepertahankan) jalan napas sangat diperlukan untuk pernapasan yang adekuat. Jika korban sadar dan dapat berbicara dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa jalan napasnya paten (tidak ada sumbatan). Jika korban mengalami penurunan kesadaran, maka perlu diperhatikan lebih lanjut mengenai patensi jalan napasnya. Biasanya korban dengan penurunan kesadaran terdapat darah, muntahan, atau air liur yang berlebihan pada jalan napasnya.

Apabila jalan nafas sudah baik dan yakin tidak ada sumbatan maka diteruskan ke prosedur selanjutnya yaitu breathing (pernapasan).

 

 

Airway ( Pembebasan jalan nafas)

Satu-satunya langkah yang sangat penting dalam resusitasi adalah terciptanya jalan nafas yang cukup memadai. Keadaan hipoksia akan menyebabkan cedera atau kematian otak dalam beberapa menit. Seseorang penderita dengan keadaan takipnea atau kesukaran pernafasan memerlukan intubasi segera. Adalah lebih baik untuk melaksanakan intubasi sesegera munkin bagi penderita dari pada terlambat.

Jalan nafas (air way )

  1. Kepentingan suatu jalan napas yang terbuka tidak dapat terlalu ditekankan. Yang disebut “ cafe coronary “ adalah obstruksi jalan napas yang disebabkan oleh sepotong besar makan yang terperangkap dalam tenggorokan.
  2. Mulut harus diperiksa untuk materi yang menyumbat. Muntahan atau benda asing harus disingkirkan dengan tangan atau forseps. Jika benda yang menyumbat tidak dapat disingkirkan dengan cara ini, makan teknik berikut dapat dicoba :
    1. Menepuk punggung pasien dengan kuat bisa menyebabkan pelepasan objek ini.
    2. Perasat Heimlich atau memeluk (bear-hug) yang dapat dilakukan pada pasien dengan posisi tegak atau berbaring. Jika pasien tegak, ia dipeluk dari belakang, di bawah sangkar iga dengan tinju penolong pada abdomennya. Jika pasien terlentang, tangan penolong ditempatkan satu di atas puncak yang lain pada abdoman pasien, di antara tepi iga dan umbilikus. Dalam kedua posisi, tangan didorong cepat ke abdoman pasien. Dorongan ini meningkatkan tekanan di dalam saluran pernapasan yang besar, yang memaksa benda asing keluar.
    3. Harus diperhatikan bahwa pewrasat Heimlich bisa mmenyebabkan reptur semua organ abdomen, termasuk juga lambung, jika tindakan ini dilakukan terlalu kuat.
    4. Pada pasien tidak sadar
      1. Otot rahang yang menyokong lidah mengalami relaksasi, yang memungkinkan basis lidah bersandar pada dinding faring posterior dan menyumbat aliran udara.
      2. Obstruksi ini dapat dihilangkan, jika kepala diekstensikan pada leher dengan leher sedikit fleksi kedepan.
      3. Satu tangan ditempatkan dibawah leher pasien dan saty di atas dahi, leher ditinggikan sementara kepala dimiringkan ke belakang.
      4. Harus hati-hati menggerakkan leher, jika diduga ada cedera leher.
      5. Bagian anterior rahang bawah dapat juga ditarik ke depan, dan basis lidah dapat ditarikbersamaan, ssehingga membuka faring. Tindakan ini dapat juga dilakukan dengan mendorong ke depan pada sudut rahang.
      6. Jika tindakan ini gagal, maka diperlukan oungsi krikoteroidea gawat darurat dengan pemasangan pipa paten yang kecil.
      7. Setelah jalan napas paten, ventilasi dapat dipulihkan dengan menggunakan resusitasi mulut ke mulut, intubasi trakea atau kantong yang bisa mengembang sendiri.

Jalan nafas digunakan untuk menggambarkan pintu masuk dari faring ke laring.

Pemeliharaan jalan nafas

Setiap prosedur atau kondisi yang mengubah tingkat kesadaran memiliki kemungkinan untuk mengganggu jalan nafas. Perubahan kesadaran dapat terjadi akibat henti jantung, trauma, overdosis  obat, anestesia umum, dan lain-lain. Untuk individu yang tidak sadar, jalan nafas harus dibantu secara manual sampai individu mampu mempertahankan jalan nafasnya tanpa bantuan.

Mempertahankan jalan nafas selama prosedur perioperatif.

Proses anestesia sering memerlukan penggunaan alat untuk mempertahankan jalan nafas. Berbagai alat ini dapat digunakan sesuai dengan kebutuhan jalan nafas individu : alat ini terdiri dari

  1. Jalan nafas oro faringeal, seperti karet atau plastik guedel, yang umumnya digunakan untuk mempetahankan jalan nafas jangka pendek dan penatalakasanaan jalan nafas paskaca operasi. Jalan nafas orofaringeal mencegah agar lidah tidak jatuh kebelakang dan menyumbat tenggorakan.
  2. Jalan nafas masker laringeal, digunakan dalam kasus bila seseorang dapat bernafas secara sepontan atau bila bantuan ventilasi tepat dan dapat dipertahankan jalan nafas masker laringeal dmasukan dengan relatif mudah dan, karena manset yang mengembung berada disepanjang dan menutupin lating, tidak ada trauma atau kerusakan pada pita suara atau tenggorokan.
  3. Selang endotrakea dirancang untuk mengedarkan anestetik secara optimal dan meminimalkan resiko aspirasi ETT, yang dapat bermanset atau tidak bermanset, dimasakan secara nasal atau oral dan dimasukan melalui laring dan pita suara dan kemudian menurun kearah trakea.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

            Manajemen airway adalah salah satu tindakan yang diperlukan untuk menangani pasien yang tidak sadarkan diri. Pada umumnya pasien yang tidak sadarkan diri akan mengalami pernapasan yang susah, karena posterior faringnya terhambat oleh lidah. Oleh karena itu sebagai tenaga kesehatan kita wajib mengetahui serta menguasai manajemen airway demi keselamatan pasien kita.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://wikimed.blogbeken.com/tahap-tahap-resusitasi

http://wargatarunajaya.blogspot.com/2011/04/rjp-resusitasi-jantung-paru.html

http://dithaisper.blogspot.com/2011/03/b-c-airways-breathing-circulation.html

Feng PH,dkk.1996. sumber penuntun pengobatan darurat.yogyakarta: Essentia Medica

Chung Edward K.1995.Penuntun Praktis Penyakit Kardiovaskuler. Edisi 3.Jakarta:EGC

Ensiklopedia keperawatan oleh Chris Brooker

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s